Selamat datang di GKY Gerendeng!
Kami sangat ingin menjadi bagian dari perjalanan iman Anda.

Visi dan Misi Gereja
Visi Gereja Kristus Yesus adalah "Gereja Yang Mulia dan Misioner", yaitu Gereja yang menyatakan kehadiran Kerajaan Allah dan nilai-nilai-Nya di tengah dunia dalam seluruh aspek kehidupan.
Lima unsur misi Allah bagi Gereja di tengah dunia (Missio Ecclesiae), yaitu (1) Ibadah (2) Persekutuan (3) Pembinaan (4) Pekabaran Injil (5) Pelayanan Sosial.
CREED
QT Terbaru
25 Agustus 2026
"Kami" Bukan "Mereka"
Setelah perjalanan yang sukses dan penuh mukjizat perlindungan Tuhan, Ezra dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa umat Tuhan telah mengompromikan kekudusan mereka. Dosa bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi pengkhianatan terhadap kasih Tuhan. Ezra menunjukkan bagaimana seharusnya sikap kita saat menyadari adanya dosa di tengah-tengah kita.Para pemimpin melaporkan kepada Ezra bahwa orang Israel, bahkan para imam dan orang Lewi, tidak memisahkan diri dari penduduk negeri itu dan telah melakukan perkawinan campur. Akar masalahnya bukan sekadar soal suku bangsa, melainkan pencampuran "benih kudus" dengan penyembahan berhala. Kekudusan adalah memisahkan diri bagi Tuhan. Dunia sering menawarkan “asimilasi”, ajakan untuk perlahan-lahan mengikuti gaya hidup, nilai-nilai, dan prioritas yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Kompromi sering kali dimulai dari hal kecil, namun tujuannya adalah melunturkan identitas kita sebagai anak Tuhan. Apakah ada area dalam hidup kita di mana kita mulai "bercampur" dengan nilai-nilai dunia yang menjauhkan kita dari Tuhan?Saat mendengar berita itu, Ezra tidak marah-marah atau menghakimi; ia justru mengoyakkan pakaiannya, mencabut rambut kepala dan janggutnya, dan duduk tertegun. Ia merasakan duka yang luar biasa karena ia mengerti betapa beratnya pelanggaran ini di mata Tuhan. Ezra mengingatkan kita bahwa dosa harus membuat kita berduka. Kepekaan rohani diukur dari seberapa hancur hati kita saat melihat kekudusan Tuhan dinodai.Dalam doanya, Ezra tidak berkata, "Tuhan, kasihanilah mereka yang berdosa." Ia berkata, "Ya Tuhanku, aku malu... karena dosa kami telah menumpuk...". Sebagai pemimpin, ia mengambil tanggung jawab dan mengidentifikasikan dirinya dengan kegagalan bangsanya. Milikilah hati yang ikut bertanggung jawab. Sangat mudah untuk menunjuk jari pada kegagalan gereja, keluarga, atau bangsa. Namun, Tuhan mencari orang-orang yang bersedia berdiri di celah (syafaat) dan mengakui dosa bersama. Pertobatan kolektif dimulai dari kerendahan hati individu yang mengaku: "Kami telah bersalah."Ezra mengakui bahwa meskipun mereka dihukum melalui pembuangan, Tuhan tetap memberikan "saat yang singkat" untuk belas kasihan dan menyisakan "sisa" yang selamat. Namun, umat justru menyalahgunakan kebaikan itu dengan berbuat dosa lagi. Jangan salah gunakan kesabaran Tuhan. Anugerah Tuhan bukan lisensi untuk terus berbuat dosa, melainkan kesempatan untuk berbalik. Hanya melalui pengakuan yang jujur, pemulihan bisa dimulai.Refleksi:Mengapa Ezra memakai kata “kami” dalam pengakuan dosanya, padahal ia pribadi tidak terlibat langsung dalam dosa itu?Apa makna keruntuhan hati Ezra ketika mendengar dosa umat, dan apa yang hal itu ungkapkan tentang kepemimpinan rohani?Bagaimana perbedaan antara sikap menghakimi (“mereka”) dan sikap solidaritas rohani (“kami”) dalam menghadapi dosa umat?Doa:Allah Bapa, ampunilah kami jika kami sering menganggap remeh dosa. Berikanlah kami hati yang peka seperti Ezra, yang menghargai kekudusan-Mu di atas segala hal. Kami mengaku bahwa kami sering berkompromi dengan dunia. Sucikanlah hati kami kembali, dan pakailah hidup kami sebagai saluran pertobatan bagi orang-orang di sekitar kami. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.
24 Agustus 2026
Tangan Tuhan yang Menyelamatkan
Ezra bukan hanya seorang ahli kitab yang hebat dalam teori, tetapi juga seorang pemimpin yang memiliki ketergantungan kepada Tuhan dalam menghadapi realita kehidupan yang berbahaya. Perjalanan sejauh kurang lebih 1.500 km yang ditempuh rombongan Ezra bukanlah perjalanan yang mudah. Mereka membawa wanita, anak-anak, dan harta benda yang sangat banyak tanpa pengawalan militer. Di sinilah iman Ezra diuji secara nyata.Ezra merasa malu untuk meminta pengawalan tentara kepada raja, karena ia sudah bersaksi bahwa "Tangan Tuhan kami melindungi semua orang yang mencari Dia". Ia memilih untuk membuktikan perkataannya dengan tindakan. Adakah selaras antara ucapan iman kita dengan tindakan kita? Sering kali kita berkata bahwa "Tuhan adalah penolongku", namun saat krisis datang, kita justru panik mencari pertolongan manusia terlebih dahulu. Ezra mengajarkan kita untuk memiliki keberanian untuk terlihat "lemah" di mata dunia (tanpa perlindungan fisik) agar kuasa Tuhan bisa terlihat nyata. Jangan hanya membicarakan kuasa Tuhan; beranilah mengandalkan-Nya.Sebelum berangkat, Ezra memaklumkan puasa di tepi sungai Ahawa untuk merendahkan diri dan memohon jalan yang aman. Hasilnya: "Tuhan mengabulkan doa kami”. Doa dan puasa adalah pengakuan bahwa kita butuh Tuhan. Jangan pernah memulai proyek besar, pelayanan baru, atau hari yang berat tanpa "merendahkan diri" terlebih dahulu. Puasa bukan untuk memaksa tangan Tuhan, melainkan untuk menyelaraskan hati kita dengan rencana-Nya dan mengakui bahwa tanpa Dia, perjalanan kita akan gagal.Ezra memilih 12 imam dan menimbang perak, emas, serta perlengkapan Bait Tuhan untuk diserahkan kepada mereka. Ia berpesan agar mereka menjaganya dengan saksama sampai tiba di Yerusalem. Di akhir perjalanan, semua harta itu ditimbang kembali dan tidak ada yang kurang sedikit pun. Iman yang besar harus dibarengi dengan integritas yang tinggi. Ezra tidak ceroboh dengan harta milik Tuhan. Ia menerapkan sistem akuntabilitas. Sebagai anak Tuhan, kita harus bisa dipercaya dalam hal-hal kecil maupun besar, khususnya dalam mengelola apa yang Tuhan percayakan (uang, waktu, talenta). Iman bukan alasan untuk menjadi tidak teratur; justru iman menuntut kejujuran maksimal.Hasil dari ketaatan dan doa mereka tertulis: "Tangan Tuhan kami melindungi kami dan menyelamatkan kami dari tangan musuh dan penghadang di jalan." Mereka tiba dengan selamat di Yerusalem. Tuhan tidak pernah mengecewakan orang yang berharap pada-Nya. Perjalanan hidup kita mungkin penuh dengan "penghadang" (masalah, godaan, atau orang yang berniat jahat). Namun, ketika kita berjalan dalam lindungan "Tangan Tuhan", tidak ada kekuatan yang bisa menghentikan kita sampai ke tujuan. Keselamatan kita adalah kesaksian bagi dunia.Refleksi:Mengapa Ezra memilih berdoa dan berpuasa, bukan meminta perlindungan militer, sebelum melakukan perjalanan yang berbahaya?Apa hubungan antara kerendahan hati, doa, dan pengalaman penyelamatan Tuhan?Mengapa perjalanan iman sering kali mengandung bahaya, tetapi juga menjadi tempat pengalaman penyertaan Tuhan yang nyata?Doa:Allah Bapa, kami mau belajar memiliki keberanian seperti Ezra untuk mengandalkan-Mu sepenuhnya. Ampunilah kami jika selama ini kami lebih sering bersandar pada kekuatan kami sendiri. Hari ini, kami menyerahkan seluruh perjalanan kami ke dalam tangan-Mu. Tolonglah kami untuk menjadi hamba-Mu yang berintegritas dan setia sampai tujuan. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.
Download aplikasi GKY Gerendeng untuk membaca QT